Tuesday, March 8, 2011

IHSAN KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN LARANGAN MENDURHAKAI KEDUANYA


IHSAN KEPADA KEDUA ORANG TUA
 DAN LARANGAN MENDURHAKAI KEDUANYA
بسم الله الرحمن الرحيم
Ba’da al-tahmid wa al taslim
Penulis akan memberikan sebuah ilustrasi kenapa Allah  selalu menggandengkan atau mengurut perintah berbuat baik kepada kedua orang tua setelah ibadah kepada-Nya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ada tiga perkara yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang selalu berurutan :
1.       Perintah mentaati Allah untuk selanjutnya mentaati Rasulnya [وأطيعوا الله وأطيعوا الرسول]
2.       Perintah mendirikan Shalat untuk selanjutnya mengeluarkan zakat [ وأقيموا الصلوة وآتوا الزكاة]
3.       Perintah bersyukur kepada Allah untuk selanjutnya berterima kasih kepada kedua Orang tua.
[ان اشكرلى ولوالديك]
Al-Qur’an sangat memperhatikan pemilihan kata dalam Nudzum – dialek bahasa Al-Qur’an- seperti penggunana kata “dan” pada  ان اشكرلى ولوالديك –dan bersyukurlah kepada-KU dan dua orang ibu bapakmu, dalam arti lain, penggalah ayat tersebut diatas mempunyai varian konotasi diantaranya :
-          Mensyukuri Allah dan Kedua orang tua
-          Cara untuk mensyukuri Allah adalah mensyukuri orang tua
-          Seseorang tidak dapat dikatakan bersyukur kepada Allah tanpa bersyukur kepada kedua orang tuanya.
Pada kesempatan ini, kita akan membahas bersama mengenai birrul waalidaen [برالوالدين] berbuat baik kepada kedua orang tua. Ayat 14 pada surah lukman yang mengatakan bahwa :

  
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1]. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Perintah bersyukurlah kepada Allah dan kepada kedua orang tua mengindikasikan bahwa posisi orang tua sangatlah agung dan terhormat, karena Allah menempatkannya setelah perintah bersyukur kepada-Nya, dalam arti lain, seorang hambah tidak akan tahu bagaimana mensyukuri Allah selama ia tidak tahu mensyukuri kedua orang tuanya.
Al-Isra Ayat 23-24 juga memperkuat posisi orang tua di sisi Allah, bahwasanya andaikan tidak ada Allah yang disembah maka wajib hukumnya menyembah kepada kedua orang tua.



Allah berfirman :


23. dan Rab-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia[2].
24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Pada ayat ini Allah malah mensingkrongkan antara urusan ibadah atau penyembahan dengan ihsan atau berbuat baik kepada kedua orang tua, dan hal ini semakin menguatkan penekanan berbuat baik kepada keduanya, dengan kata lain, seseorang tidak akan pernah sempurna hubungan vertikalnya tanpa berbuat baik kepada kedua orang tuanya, se’abid apapun dia, seshaleh apapun dia kalau hubungan antara orang tua tidak layak,  maka ridhah Allah semakin menjauh darinya.
Rasulullah bersabda :
رضا الله فى رضا الوالدين وسخط الله فى سخط الوالدين
Artinya :
Ridho Allah itu tergantung pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.

Banyak Ayat-Ayat Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah yang menerangkan bagaimana penting berbakti atau berdharma kepada kedua orang tua,
Berikut ini Penulis memberikan beberapa perkataan atau perbuatan yang mengantarkan kita durhaka kepada orang tua :
01.  Melakukan suatu perkataan atau perbuatan yang memunculkan kesedihan dalam jiwanya.
02.  Mengatakan kata uff atau ah pada keduanya
03.  Membentak atau menghardiknya
04.  Bermuka masem atau cemberut kepada keduanya
05.  Bakhil terhadap keduanya
06.  Menyuruh orang tua
07.  Mencemarkan nama keduanya.
08.  Dll..

Sebelum mengakhiri tulisan ini ada baiknya kita mendengarkan sebuah kisah sbb :
Pada suatu hari Rasulullah saw mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau mengajarkan kepadanya kalimat syahadah: Lailaha illallah. Tetapi pemuda itu lisannya terkunci.
Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang ada di dekat kepalanya: Apakah pemuda ini punya ibu?
Ia menjawab: Ya, saya ibunya.

Rasulullah saw bertanya: Apakah kamu murka kepadanya?

Ibunya menjawab: Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 haji (6 tahun).
Rasulullah saw bersabda: Ridhai dia!

Ibunya menjawab: Saya meridhainya karena ridhamu padanya.
Kemudian Rasulullah saw mengajarkan kembali kepadanya kalimat: Lailaha illallah.
Pemuda itu sekarang dapat mengucapkan kalimat Lailaha illallah.
Rasulullah saw bertanya kepadanya: Apa yang kamu lihat tadi?
Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam, pandangannya jahat, pakaiannya kotor, baunya busuk; ia mendekat kepadaku, dan marah padaku.
Kemudian Rasulullah saw membimbingnya membaca:

يَا مَنْ يَقْبَلُ الْيَسِيْرَ وَيَعْفُو عَنِ الْكَثِيْرِ اِقْبَلْ مِنِّى الْيَسِيْرَ، وَاعْفُ عَنِّي الْكَثِيْرَ اِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Lalu ia mengucapkannya.

Rasulullah saw bertanya lagi: Lihatlah sekarang apa yang kamu lihat?

Pemuda menjawab: Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah putih dan indah, harum baunya, bagus pakaiannya; ia mendekat padaku, dan aku melihat orang yang berwajah hitam itu menjauh dariku.
Rasulullah saw bersabda: Perhatikan lagi, ia pun memperhatikan. Kemudian beliau bertanya: Apa yang kamu lihat sekarang.
Pemuda menjawab: Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, aku hanya melihat orang yang wajahnya putih, dan cahaya meliputi keadaan ini. [3]
                                                                                           
KBRI Addis Ababa
A.Aidid
Addis Ababa, 08 Maret 2011


-------------------------------------------------------------------------
NB. Dipresentasikan di Ruangan DWP KBRI Addis Ababa

Taro ki ada-ada

HTML Comment Box is loading comments...

Followers