Showing posts with label Biasakan Diri Anda. Show all posts
Showing posts with label Biasakan Diri Anda. Show all posts

Monday, July 2, 2012

DI BULAN SYA’BAN AMALAN ANDA DIANGKAT KE LANGIT

Sebagian besar diantara kita gaflah atau lalai akan keutumaan bulan Sya’ban, sebagian orang-orang terlalu sibuk dengan kegiatan dan program yang ada sehingga sedikit lalai dan melupakan eksistensi kemanusiaannya untuk selalu berusaha meningkatkan hubungan vertikalnya.

Telah menjadi sebuah tradisi yang melengket dan sulit dipisahkan, bangsa arab ketika berakhir bulan Rajab dan berawal bulan Sya’ban setiap suku dari mereka senang untuk berperang dan mencari ghanimah  atau harta rampasan perang, mereka senang mencari kebutuhan sehari-hari terutama air karena panas yang tidak ketulung. Karena adanya kesibukan tersebut, hati dan pikiran cendrung untuk berkonsentrasi pada apa yang menjadi target duniawinya dengan sedikit gaflah akan kepentingan dan kebutuhan rohnya.

Kata Sya’ban/ شعبان merupakan bentuk tunggal dari kata plural شعبانات وشعابين  adalah bulan kedelapan dari kelender Hijriyah, bulan antara  Rajab dan Ramadhan.   Dalam Mu’jam معانى الأســـماء dijelaskan bahwa  dikatakan sya’ban karena orang-orang pada waktu tersebut berkelompok-kelompok sibuk mencari air karena panas  yang menyengat.

Dari beberapa hadits yang ada hubungannya dengan bulan sya’ban, umumnya menyoroti sikap gaflah atau kelalaian akan keutamaan bulan ini, sementara sebagian besar dari 29 hari atau 30 hari di bulan Sya’ban ini, tauladan Muhammad banyak melakukan puasa.
Disinyalir dalam sebuah Hadits yang diriwatkan oleh Al-Nasai dari Usama bin Zaed r.a. :

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال: قال يا رسول الله: لم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال] http://www.alminbar.net/images/salla-icon.gif: ذاك شهر تغفل الناس فيه عنه، بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم  [رواه النسائي

Artinya :
Dari Usamah bin Zaed yang diridhoi Allah pada keduanya berkata  : Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat Anda berpuasa pada bulan apapun lebih dari pada Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah menjawab : Bulan itu dilupakan oleh kebanyakan orang, antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan dimana semua amalan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin, dan saya senang ketika amalan saya diangkat saya dalam keadaan berpuasa.

Dari  Hadits tersebut jelas terurai bahwa bulan Sya’ban adalah bulan dimana amalan setiap hamba akan diangkat ke langit, tidak ada keterangan secara detail yang menjelaskan bahwa amalan-amalan apa  saja yang diangkat pada bulan ini, hanya saja beberapa ulama memberikan penjelasan bahwa amalan itu akan diangkat menurut tiga kategori  yaitu amalan harian, mingguan dan tahunan, berikut detailnya :
Amalan Harian          :
Siang                           : Pada  awal malam (Shalat Ashar)
Malam                         : Pada awal siang (Shalat Fajar)
Amalan Mingguan     : Senin dan  Kamis
Amalan Tahunan       : Bulan Sya’ban

Pada artikel ini,  Penulis dengan memohon pertolongan Allah mencoba menjelaskan ketiga kategori amalan diatas dengan mengetengahkan beberapa ayat Al-Qur’an mengenai penafsiran ترفع الأعمال إلى الله  /amalan diangkat kepada Allah sebagai berikut :
1.      Qhafir ayat 7 sebagai  acuan dari penafsiran amalan yang diangkat sebagai pemberitahuan kepada Para Malaikat Allah, Allah  berfirman :

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ ]غافر :7[   

7.  (Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,
Ayat ini menurut sebagian ulama menjelaskan bahwa amalan-amalan seorang hamba diangkat ke langit dengan maksud memberitahukan para malaikat pemangku Arsy Allah dan malaikat-malaikat sekeling Arsy tentang amalan baik hamba tersebut, dengan demikian para malaikat akan selalu mendoakan hamba tersebut agar senantiasa dalam perlindungan rahmat dan rahim-Nya.

2.      Al-Mutahaffifien, 18-20, menjelaskan tentang amalan perbuatan dan perkataan yang diangkat untuk disalin di kitab yang berada di ‘Illiyin :

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ (18) وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ (19) كِتَابٌ مَرْقُومٌ (20  المطففين

18.  Sekali-kali tidak, Sesungguhnya Kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin. [1564]
19.  Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu?
20.  (yaitu) Kitab yang bertulis,

[1564]  'Illiyyin: nama Kitab yang mencatat segala perbuatan orang-orang yang berbakti.


3.      Fathir ayat 10 yang menjelaskan akumulasi amalan dan pengklasifikasian amalan yang baik dengan yang buruk :


مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]


10.  Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya[1250]. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.

[1249]  sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan yang baik itu ialah kalimat tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; dan ada pula yang mengatakan zikir kepada Allah dan ada pula yang mengatakan semua perkataan yang baik yang diucapkan Karena Allah.
[1250]  maksudnya ialah bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala.

Terkait masalah penjelasan timing atau waktu pelaporan amalan-amalan seorang hamba, perlu meningkatkan ekstra konsentrasi vertikal kita pada post-post waktu yang telah ditentukan, dalam artian ekstra Ibadah di waktu Ashar, Maghrib sebagai laporan harian, senin dan Kamis sebagai laporan mingguan dan bulan Sya’ban sebagai laporan tahunan.

Rasulullah Bersabda untuk laporan amalan senin dan kamis :

إن الأعمال ترفع يوم الاثنين و الخميس ، فأحب أن يرفع عملي و أنا صائم

Sesungguhnya amalan-amalan itu akan diangkat pada hari senin dan kamis, olehnya itu saya senang ketika  amalan saya diangkat saya dalam keadaan berpuasa
H.R. Abu Hurairah dan Usama bin Zaed dan dishahkan oleh Al-Bani [Kitab Shahihul Jami’ No. Hadits 1583 ]
Demikian uraian kali ini, tentunya artikel ini tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan, dan penulis berharap  semoga dapat memberi manfaat untuk pembaca Insya Allah.

A.Aidid           
12 Sya’ban 1433 H. (2 Juli 2012)
Ba’da  Ashar, 16.30
Ruangan 27 Kantor KBRI Addis Ababa

Friday, October 28, 2011

Mingingat Mati II


BIASAKAN DIRI ANDA : Mengingat Mati II
Sub title : Alam Barzakh

Penulis masih mencoba menguraikan beberapa marhalah atau episode dalam hal kematian, kali ini mari  bersama merenung dan mencoba mencari tahu rahasia dibalik alam barzakh atau lebih dikenal dengan alam kubur.
Pada dasarnya ada perbedaan antara alam barzakh dengan alam kubur, hanya saja di Indonesia kita cendrung memahaminya sebagai dua kata yang sinonim, untuk tidak terjadi kesalahpahaman ada baiknya penulis menguraikan dua akar kata tersebut.
Alam Barzakh terdiri dari dua suku kata yaitu Alam dan Barzakh, barzakh diadopsi dari bahasa arab ke bahasa Indonesia yaitu برزخ   yang terdiri dari huruf ب،ر،ز، dan خ yang secara bahasa bisa berarti الحاجز atau الحد (sekap atau pembatas), para ahli bahasa meberikan pengertian secara bahasa bahwa Alam barzakh adalah pembatas antara dua alam, sedangkan menurut istilah albarzakh berarti periode tertentu antara kematian dan hari kebangkitan –judgment time-.

Para ahli Lugha –Bahasa- membedakan antara barzakh dan kubur, barzakh adalah dimensi ruhiyah yang bersifat temporal dari step pertama kehidupan Akhirat, sedangkan kubur adalah tempat jasad dibaringkan atau pembaringan terakhir setelah kehidupan dunia, ada juga yang mengatakan bahwa barzakh adalah waktu sedangkan kubur adalah tempat, keduanya masih terikat dengan kehidupan dunia, hanya saja Allah memberikan kita panca indra yang terbatas pada hal-hal yang bersifat factual, hewan mampu mendengarkan siksaan orang-orang yang telah dikubur.

Seorang Komunis berkebangsaan soviet Dr. Azzacove, pernah mengadakan penelitian untuk mengetahui pergerakan bumi dengan interval tertentu, dari penuturannya Dr. Azzacove sempat merekam adanya jutaan suara yang meminta tolong atau perlindungan pada dasar bumi, pada awalnya Dr. Azzacove mengira bahwa suara tersebut yang direkam dengan alat canggih Super sensitive microphone, adalah gesekan dari alat-alat  yang digunakan pada dinding-dinding perut bumi, akan tetapi setelah mendengar dan menganalisa ulang, Dr. Azzacove berkesimpulan bahwa itu adalah suara jutaan manusia yang meminta pertolongan.
Kehidupan Alam barzakh merupakan sisi esensial dari akidah orang-orang yang beriman, mempercayai adanya balasan yang diterima langsung di alam barzakh adalah suatu keniscayaan. Banyak dalil-dalil yang menerangkan eksistensi alam barzakh baik itu dari Al-Qur’an maupun Hadits diantaranya :

QS. Almu’min : 45-46
Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras".
Penggalan ayat “Kepada mereka dinampakan neraka pada pagi dan petang” memberikan indicator adanya siksaan di Alam Barzakh. Jamak pakar tafsir sekaliber Imam Qurtubi, Syaukani, dan Fakhruddin al Razi berasumsi bahwa penggalan ayat tersebut diatas adalah bukti nyata adanya siksaan di Alam barzakh. Ibn Katsir mengatakan bahwa penggalan ayat tersebut diatas menjadi pokok Akidah terbesar yang menjadi dalil bagi pengikut mazhad ahlussunnah wal jama’ah tentang adanya balasan di Alam Barzakh.

QS. Albaqarah : 145
Dan jangan kamu sekalian mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah amwaat (orang-orang mati) akan tetapi  mereka itu hidup sedang kalian tidak merasakannya”.

Kedua dalil diatas menurut asumsi penulis menjelaskan bahwa Alam Barzakh masih sangat berkaitan dengan Alam kita sekarang ini, hanya saja kemampuan untuk menjangkau Alam tersebut adalah suatu kemustahilan, barzakh yang diciptakan Allah tidak seperti dinding beton kreasi manusia yang bisa dijangkau dengan golembang magnetis.

Penggalan Ayat pertama AlQur’an menjelaskan bahwa mereka –firaun dan sekutunya- dinampakan neraka pagi dan petang, ketarangan waktu pagi dan petang menunjukan adanya keterkaitan antara universe tempat tinggal kita sekarang dengan step pertama kehidupan akhirat, alasanya simple terjadinya pagi dan petang itu disebabkan route matahari ke planet bumi.
Dalil yang kedua mengenai kehidupan para Syuhada, mereka diberikan rezki sebagaimana kehidupan kita di dunia. Penggalan ayat “sedang kalian tidak merasakannya”  berindikasi kepada makhluk yang anugerahi Allah sifat “Rasa”. Kata-kata rasa di penggalan ayat ini bukan berarti merasakan sesuatu karena sentuhan. Orang-orang arab ketika ingin mengatakan saya merasakan sesuatu akibat dari sentuhan atau rabahan tangan itu menggunakan kalimat hassa – حس، يحس – bukan menggunakan kata – شعر  - . kata pada penggalan ayat tersebut berhubungan dengan dimensi barzakh bukan dimensi materi. Oleh karena kita terbatas –hajiz- pada kehidupan materi sudah barang tentu tidak dapat berkomunikasi dengan penghuni alam barzakh kecuali one condition, kita keluar dari alam materi menuju alam semi Barzakh yaitu alam mimpi (asumsi penulis). Wallahu a’lam.

Para Imam Ahlul Bait Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa ada tiga golongan manusia di Alam Barzakh.
Pertama :
adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dengan sebaik-baik iman dan konsisten dengan keimanannya, lalu memperbaiki agamanya, tidak mencanpuradukan yang hak dengan yang bathil, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Golongan ini menurut beliaus yang ditanya dikuburnya dan mendapatkan kenikmatan di Alam Barzakh sampai datangnya hari kebangkitan.
Kedua :   
Golongan orang-orang kafir atau ingkar kepada Allah, golongan ini akan ditanya di kuburnya dan akan mendapatkan siksaan di Alam Barzakh sampai datangnya hari kebangkitan
Ketiga :
Golongan yang mencampuradukan antara kebenaran dan kebathilan, golongan ini tidak akan ditanya di kuburnya serta tidak akan mendapatkan balasan apapun dari perbuatannya di dunia hingga datangnya hari kebangkitan, nasib golongan ini akan tergantung pada Syafa’at dan pengampunan Allah, atau akan mendapatkan siksaan sebagai balasan dari dosa-dosa yang mereka perbuat untuk kemudian dimasukan kedalam Surga.

Terakhir…
Penulis ingin share kepada pembaca tentang sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Abu Allaits sebagai berikut :
Dari Albaraa’ bin Aazib yang diridhoi Allah pada keduanya berkata : Kami bersama Nabi s.a.w keluar menghantar jenazah seorang sahabat Anshar, ketika tiba di liang lahad dan jenazah belum dimasukan, Nabi s.a.w. duduk dan kamipun duduk terdiam disekitar beliau dan menunddukan kepala bagaikan ada burung diatas kepala kami, sedang Beliau s.a.w mengorek-gorek dengan dahan yang ada ditangannya, kemudian beliau mengangkat kepala sambil bersabda : Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksaan kubur !!! beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.
Abu Allaits berkata siapa yang hendak selamat dari siksa kubur, hendaknya menjaga empat perkara dan meninggalkan empat perkara pula :
JAGALAH EMPAT PERKARA
  1. Jaga Shalat lima waktu
  2. Memperbanyak sedekah
  3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an
  4. Memperbanyak memuji atau bertasbih kepada Allah.
TINGGALKAN EMPAT PERKARA
  1. Hindari berdusta atau berbohong
  2. Berkhianat
  3. Mengadu Domba
  4. Hindari Kencing berdiri (Nabi Bersabda : Bersih-bersihlah kamu daripada kencing, karena umumnya siksaan kubur disebabkan karena kencing (artinya hendaknya mencuci kemaluan sebersi-bersinya)
Saling mengingatkanlah kita akan panggilan alam barzakh, umur semakin bertambah, rambut beruban, kondisi tubuh tidak se-fit masa muda, mata sudah mulai rabun, adalah merupakan sandi-sandi barzakh yang perlu kita hayati dan kita jadikan motivator untuk senantiasa welcome kepada step pertama kehidupan akhirat, semoga kita semua diberikan Allah hidayat insyallah.
Rasulullah mengajarkan kita sebuah do’a agar kita terhindar dari siksa kubur, sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Huraerah r.a.  sebagai berikut :

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ


Jika salah seorang di antara kalian selesai tasyahud akhir (sebelum salam), mintalah perlindungan pada Allah dari empat hal: [1] siksa neraka jahannam, [2] siksa kubur, [3] penyimpangan ketika hidup dan mati, [4] kejelekan Al Masih Ad Dajjal.” (HR. Muslim). Do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ


“Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qobri, wa ‘adzabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarri fitnatil masihid dajjal

 [Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan Al Masih Ad Dajjal].” (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat insyallah

Fourth Friday of October 2010
Home Addis Ababa
A. Aidid


Baca : Mengingat Mati Bag. I

Friday, October 29, 2010

PEKA TERHADAP FENOMENA ALAM


BIASAKAN DIRI ANDA    : Peka Terhadap Fenomena Alam
Sub Title                               : Rahasia Dibalik Gempa

Alam adalah Ayat Allah yang tercipta, sementara Al-Qur’an adalah Ayat Allah yang tertulis, kedua-duanya merupakan senyawa yang tak dapat dipisahkan, Alam dapat dibaca dengan hipotesa dan phenomena-penomenanya, dan Al-Qur’an dapat dikaji baik dari segi historis dan linguistic, alam adalah konteks dan Al-Qur’an adalah teks.

Dalam Al-Qur’an disebutkan kata “Bahr/البحر” dan segala bentuknya baik plural maupun singular  yang berarti laut berulang sebanyak 71 kali, sementara kata  bar/البر  yang berarti  darat berulang sebanyak 29 kali, ternyata merupakan persentasi lautan dan daratan yang ditemukan oleh para ilmuan pada abad 20 bahwsanya laut lebih luas daripada daratan, laut 79 persen dan darat 21 persen.

Kata Al-Zilzaal/زلزال yang berarti gempa dalam Al-Qur’an berulang sebanyak 6 kali, sedang kata             Al-Hattham/الحطام yang berarti kehancuran berulang sebanyak enam kali.

Ketika mendengarkan gempa, penulis teringat salah satu surah Al-Qur’an yang menjadikan Gempa sebagai title of chapter  yaitu surah Al-Zalzalah (سورة الزلزلة ), dari Ayat satu sampai empat  mengilustrasikan bagaimana kondisi alam dan manusia ketika terjadi gempa.

#sŒÎ) ÏMs9Ìø9ã ÞÚöF{$# $olm;#tø9Î ÇÊÈ   ÏMy_t÷zr&ur ÞÚöF{$# $ygs9$s)øOr& ÇËÈ   tA$s%ur ß`»|¡RM}$# $tB $olm; ÇÌÈ   7Í´tBöqtƒ ß^ÏdptéB $ydu$t7÷zr& ÇÍÈ  

1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",
4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,



Pada umumnya ulama tafsir mengatakan bahwa surah tersebut diatas mengilustrasikan kepada kita bagaimana ketika terjadinya hari kiamat, akan tetapi sebagian ulama tafsir kontemporer mengatakan bahwa surah tersebut diatas tidak saja terpaku pada pengilustrasian hari kiamat, akan tetapi merupakan kilas balik bagaimana kondisi alam dan manusia ketika terjadi gempa.

Selain kata-kata Zilzaal dengan segala bentuknya, ada beberapa ayat yang mempunyai konotasi sama dengan surah tersebut diatas, diantaranya :

01.   Q.S. Al-Waqi’ah: 1-6

#sŒÎ) ÏMyès%ur èpyèÏ%#uqø9$# ÇÊÈ   }§øŠs9 $pkÉJyèø%uqÏ9 îpt/ÏŒ%x. ÇËÈ   ×pŸÒÏù%s{ îpyèÏù#§ ÇÌÈ   #sŒÎ) ÏM§_â ÞÚöF{$# %w`u ÇÍÈ   ÏM¡¡ç0ur ãA$t6Éfø9$# $r¡o0 ÇÎÈ   ôMtR%s3sù [ä!$t6yd $}Wu;/ZB ÇÏÈ  

1. apabila terjadi hari kiamat,
2. tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.
3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),
4. apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
5. dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya,
6. Maka jadilah ia debu yang beterbangan,

02.   Q.S. Al-Insyiqaaq : 3-4

#sŒÎ)ur ÞÚöF{$# ôN£ãB ÇÌÈ   ôMs)ø9r&ur $tB $pkŽÏù ôM¯=sƒrBur ÇÍÈ  
3. dan apabila bumi diratakan,
4. dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,

03.   Q.S. Al-Fajr : 21

Hxx. #sŒÎ) ÏM©.ߊ ÙßöF{$# %y.yŠ %y.yŠ ÇËÊÈ  
21. jangan (berbuat demikian). apabila bumi digoncangkan berturut-turut,


04.   Q.S. Al-‘Adiyaat : 9

* Ÿxsùr& ãNn=÷ètƒ #sŒÎ) uŽÏY÷èç/ $tB Îû Íqç7à)ø9$# ÇÒÈ  
9. Maka Apakah Dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,


05.   Q.S. Al-Infithaar : 3-4

#sŒÎ)ur â$ysÎ7ø9$# ôNtÉdfèù ÇÌÈ   #sŒÎ)ur âqç7à)ø9$# ôNuŽÏY÷èç/ ÇÍÈ  
3. dan apabila lautan menjadikan meluap,
4. dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,


06.   Q.S. Qaaf : 44

tPöqtƒ ÚY¤)t±n@ ÞÚöF{$# öNåk÷]tã %Yæ#uŽÅ  4 y7Ï9ºsŒ îŽô³ym $uZøŠn=tã ׎Å¡o ÇÍÍÈ  
44. (yaitu) pada hari bumi terbelah-belah Menampakkan mereka (lalu mereka ke luar) dengan cepat. yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi kami.


07.   Q.S. Al-Haaqah : 14

ÏMn=ÏHäqur ÞÚöF{$# ãA$t7Ågø:$#ur $tG©.ßsù Zp©.yŠ ZoyÏnºur ÇÊÍÈ  
14. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.

08.    Q.S. Al-Muzammil : 14
tPöqtƒ ß#ã_ös? ÞÚöF{$# ãA$t7Ågø:$#ur ÏMtR%x.ur ãA$t6Ågø:$# $Y6ÏVx. ¸xŠÎg¨B ÇÊÍÈ  

14. pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.


Dari beberapa surah tersebut diatas semua bercerita tentang kejadian maha dahsyat, Abdul Jabbar Syaraarah, seorang pakar lingusitik mengatakan dalam tulisannya (الحروف المقطعة فى القرآن الكريم – Hurufs el Muqatta’ah dalam Al-Qur’an - ) bahwa dalam dialek arab kuno, huruf merupakan sebuah ideogra/pictograph  atau symbol, paling tidak setiap dari ideogra itu mempunyai muatan makna , dalam hal ini beliau memberikan sebuah contoh huruf  (ذ) Dzal merupakan symbol kekuatan atau kedahsyatan, ketika seseorang mengatakan ذ- سموى  - itu berarti kekuatan langit,  huruf (ق) Qaaf berarti  قف – berhenti atau berdiri-, huruf (ن) berarti الدواة  -Obat -, huruf (س) sin berarti bulan, dan huruf (أل) berarti Al-Rab.

Beliau menambahkan bahwa bisa jadi huruf (ذ) merupakan padanan huruf (إذا) yang mengindikasikan terjadinya sesuatu hal yang maha dahsyat dan betul-betul akan terjadi, sebagaimana kita perhatikan setiap surah yang bercerita tentang kejadian yang maha dahsyat, akan dimulai dengan huruf إذا .

Kembali pada surah Al-Zalzalah yang dimulai dengan huruf  إذا , juga berilustrasi tentang sebuah kejadian atau phenomena  alam  maha dahsyat, ada baiknya kita teliti ayat demi ayat surah al-zalzalah sebagai berikut :

1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),

Kata digoncangkan yang berbentuk kata kerja transitif  mempunyai varian konotasi tentang banyaknya penyebab goncangan tersebut, dan kata زلزالها  -goncangan yang dahsyat-  menurut terjemahan versi department agama, kalau boleh penulis tambahkan kata زلزالها  bisa berarti goncangan-nya, dalam artian bumi pada dasar mempunyai goncangan, hanya saja goncangan itu akan berbeda pada level atau magnitude tertentu.

Al-Qur’an sangat memperhatikan akurasi bahasa dalam mengungkapkan atau mengilustrasikan suatu peristiwa, baik itu sudah terjadi, sedang terjadi ataupun peritiwa yang belum terjadi, dalam hal gempa Al-Qur’an mempunyai ukuran tersendiri dengan memakai stadar penggunaan ideogra ( ذ ) (Penafsiran dengan menggunakan metodhe الإعجاز العددى  ) yang bisa jadi sama seperti standar ukuran yang digunakan dunia sekarang ini yaitu standar yang populerkan oleh seorang volkanis italia Giuseppe Mercalli (Mercalli Intensity Scale)pada tahun  1884 dan 1906. Dan standar yang digunakan oleh Charles F. Richter (the magnitude Richter Scale).

الزلزالــــ                  : 1-5  derajat
الإنفطار                   : 6-7 derajat         
الانشقـاق                  : 8-10 derajat
الواقعة                     : 11 – 16 derajat
التكوير                     : 17 – 19 derajat

Syaikh Jauhari Thantawi banyak menerangkan dalam tafsirnya tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan gempas dan volkanos, adapun intentistas pergerakan bumi yang mendahului gempa, telah dirinci dalam Al-Qur’an sebelum ditemukan dengan tekhnologi modern, Al-Qur’an memberikan kita gambaran tentang intensitas bumi menjelang hari kiamat sebagai berikut :

Q.S. Al-Waqi’ah
Ayat 3 : ((خافضة رافعة  : merupakan persentasi gerakan atau goncangan lempengan bumi yang turun naik, yang kemudian Department agama menerjemahkannya dengan

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), -perlu dikoreksi terjemahan depag J

Ayat 4 : إذا رجت الأرض رجا : Gerakan pada level atas bumi secara merata
Terjemahan Depag : 4. apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, (Juga masih perlu dikoreksi)


Q.S. AL-Insyiqaaq
Ayat 04 :وألقت فيها وتخلت  : Gempa yang berbarengan dengan volcano

Q.S. Al-Zalzalah
Ayat 02 : وأخرجت الأرض أثقالها : semua kandungan bumi dikeluarkan



2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,

Para ahli tafsir –mufassir- dahulu menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat diatas adalah hari kebangkitan, dalam artian bahwa orang-orang yang dikubur akan dibangkitkan, bahkan dalam sebuah mitos terjadinya gempa itu disebabkan oleh seekor ikan besar yang menggerakan bumi ini (bisa dilihat dalam tafsir ibnu katsir). Perkembangan iptek sangat membantu para mufassir untuk menerjemahkan atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, artinya bumi mempunyai kandugan volcano, kandungan gas, minyak dan lain-lain sebagainya, dan pada saat terjadi zilzaal –gempa- semua kandungan akan dikeluarkan.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis teringat sebuah hadits Rasulullah mengenai tanda-tanda hari kiamat, dalam potongan hadits yang maknanya “salah satu tanda hari kiamat adalah keluarnya api dari Yaman.” Hadits ini sedikit memberikan sebuah ilustrasi kepada penulis bahwa kata-kata api akan keluar dari Yaman itu bisa berindikasi pada وألقت فيها وتخلت  ( gempa yang berbarengan dengan volcano), walaupun secara histografi Yaman tidak termasuk Negara langganan gempa karena jauh dari lempengan tektonik dunia, namun menurut seorang geologis bahwa setiap hari lempengan tektonik itu bertambah mendorong penulis berasumsi bahwa boleh jadi maksud dari hadits tersebut adalah terjadinya gempa yang berbarengan dengan volcano.

Terakhir…
Gempa yang berskala al-infithaar (6-7) saja bisa membuat negeri kita tercinta berkata مـــالها...؟ mengapa bumi kita tercinta ini begini..? apatalagi gempa yang berskala Al-Takwir/doomsday.… semoga saja bumi kita tercinta Indonesia dijauhkan dari gempa sebagai gejala alam, maupun gempa terror, gempa korupsi, gempa kesombongan kepada Allah, gempa keingkaran, kemaksiatan, kedzaliman dan gempa-gempa lainnya, karena bisa jadi gempa-gempa tersebut menjadi pemicu terjadi gempa sebagai gejala alam. Wallahu A’lam we A’lam.

A.Aidid
Addis Ababa, Last Friday of October 2010

Taro ki ada-ada

HTML Comment Box is loading comments...

Followers