Showing posts with label Ramadhan Kariem. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan Kariem. Show all posts

Friday, August 10, 2012

RAMADHAN 1432 H. : Cetak Sosok dan Figur Inovatif


RAMADHAN 1432 H. : Cetak Sosok dan Figur Inovatif

Bahan Khutbah 1433 H.
Di Wisa KBRI Addis Ababa

الله أكبر،  الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله اكبر، الله أكبر،
الله أكبر، الله أكبر.
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهديه ونشكره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا مثيل له ولا ضد ولا ند له، اللهم إنا نوحدك ولا نحدُّك. ونؤمن بك ولا نكيفك. ونعبدك ولا نشبهك. ونعتقد أن من شبهك بخلقك ما عرفك. وأشهد أن سيدنا وحبيبنا وعظيمنا وقائدنا وقرة أعيننا محمدًا عبده ورسوله وصفيه وحبيبه بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة فجزاه الله عنا خير ما جزى نبيا من أنبيائه، الصلاة والسلام عليك سيدي يا رسول الله يا علم الهدى أنت طب القلوب ودواؤها وعافية الأبدان وشفاؤها ونور الأبصار وضياؤها صلوات الله وسلامه عليك وعلى كل رسول أرسله.

Kaum Muslimin Yang dimuliakan Allah
Hari ini 1 Syawwal 1433 H. adalah hari yang sangat bahagia untuk kita semua, setelah mendirikan Ramadhan 1433 H. Dengan melakukan puasa di siang harinya dan melaksanakan shalat taraweh, shalat lael dan shalat Tahajjud dimalam harinya dengan Imanan wahtisaban, makan saya yakin Insya Allah kita akan mendapatkan Jawaiz, award atau penghargaan dari Allah S.W.T di hari yang berbahagia ini. Rasulullah menjelaskan adanya  Award atau penghargaan itu dalam sebuah haditsnya :
((وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُما إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ))
Ada dua kegembiraan yang dimiliki orang yang berpuasa, gembira pada saat berbuka dan kegembiraan pada saat bermuajaha dengan Allah untuk menerima award puasanya.
Berbahagialah kita semua pada hari ini, berbahagilah mereka yang mendirikan dan menghidupkan malam-malam Ramadhan di Mesjid Anwar, Mesjid Awliyah, dan Mesjid Abadir di Mekanissa dan berbahagia pulalah orang-orang yang senantiasa mendirikan malam-malam ramadhan di Kantor KBRI Addis Ababa, karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan seorang hambahnya. Allah selalu menepati janji-Nya kepada orang-orang yang menjalankan perintahnya, kepada semua hamba-hamba yang dicintainya
يا الله يا وافى الوعد نسألك أن تدخلنا وجميع الصائمين  جنتك من باب الريان كما وعدت للصائمين
Wahai Allah yang memenuhi janji, kami memohon kepada-Mu kiranya engkau memasukan kami dan orang-orang yang berpuasa dalam sorga-Mu dari pintu rayyaan sebagaimana engkau janjikan kepada orang-orang yang berpuasa.
Adanya keinginan untuk berpuasa, untuk datang ke mesjid-mesjid Allah maupun di Kantor KBRI Addis Ababa untuk mendirikan malam-malam ramadhan adalah sebuah nikmat yang patut kita syukuri, karena diantara kita tidak semua dapat merasakan kenikmatan itu karena terhalang berbagai urusan duniawi, karena persentasi keimanan kita boleh jadi belum pada tahap atau level untuk menghidupkan ramadhan dan membantu atau menolong Agama Allah. Perlu dicatat bahwa keimanan setiap orang itu yaziidu wa yanqush kadang bertambah kadang pula berkurang.
Pada hari ini adalah hari keduakalinya kita merayakan Idul Fitri di Wisma Duta KBRI Addis Ababa, walaupun dengan kwantitas kita semakin berkurang akan tetapi semangat tetap perlu dipertahankan untuk kemashlahatan bersama, kebersatuan dan keterpautan dalam tali silaturrahim untuk melestarikan sebuah tradisi atau sunnah : Rasulullah bersabda :
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ . وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ)
Barangsiapa yang memulai sebuah sunnah atau tradisi yang baik dalam islam lalu hal tersebut dilakukan orang-orang setelahnya, akan diberikan kepadanya pahala seperti orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melaksanakan tradisi tersebut dan barangsiapa yang melakukan sebuah sunnah atau tradisi yang buruk dalam islam hal tersebut dilakukan oleh orang-orang setelahnya, akan diberikan kepadanya ganjaran seperti orang yang melakukan tradisi tersebut tanpa mengurangi ganjaran dosa sedikitpun orang yang melakukan tradisi tersebut.
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd...
Melalui media dan momentum Idul Fitri ini mari tingkatkan rasa persaudaraan kita dan rapatkan barisan untuk melaksanakan amanah Allah, amanah negara Indonesia tercinta, madrasah ramadhan 1433 H. Diharapkan mencetak sosok atau figur-figur handal yang mampu melahirkan gagasan-gagasan inovatif sebagai sebuah pilar diplomasi, tinggalkan kebiasaan yang merugikan dan menjadi beban orang lain dan tingkatkan konsentrasi kerja. Insya Allah mendahulukan kebersamaan yang bersifat non-struktural dapat membantu kelancaran program kerja KBRI Addis Ababa, tentunya setiap personil harus mafhum dan menyadari batasan-batasan yang telah digariskan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd...
Mari berdoa kepada Allah semoga proyek ramadhan Allah  dapat melahirkan kita semua sebagai insan-insan bertaqwa  yang memiliki didikasi tinggi untuk agama dan bangsa. Biasan ramadhan semoga selalu terintegrasi dalam prilaku-prilaku kita pada bulan-bulan mendatang. Eih Allah... melalui hari yang berbahagia ini kami mohon hilangkan tekanan-tenakan perasaan dalam jiwa-jiwa kami agar kami dapat melaksanakan tugas kami dengan syahdu dan nikmat, anugerahkan kepada kami keikhlasan dalam bekerja sehingga tugas-tugas yang kami emban dan lakukan menjadi ibadah kemada-Mu, pupuklah kebersamaan kami untuk memuliakan-Mu. Allahumma Amien..Allahumma Taqabbal.
Ibadallah...Hamba Allah....
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berbuat adil, adil kepada Allah, diri sendiri, keluarga, saudara dan sanak famili, tetangga, atasan, jajaran staf, dan adil kepada negaramu dan memerintahkanmu untuk berbuat baik, ringan tangan kepada kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji dan mungkar dan permusuhan, Allah memberi pengajaran tersebut agar kalian dapat mengambil pelajaran
ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون
Wassalamu Alaikum Warahmatullah Wabaraktuh.

Monday, August 1, 2011

Menyambut Bulan Suci Ramadhan


REFLEKSI RAMADHANIYAH :
Menyambut Bulan Suci Ramadhan


Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu mengamalkan doa yang Beliau sinyalir dalam sebuah hadits : 

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَان. رواه أحمد والطبراني َ 

“Ya Allah berikanlah kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur Kami di bulan Ramadhan” H.R. Ahmad dan Thabrani 

Dan Alhamdulillah segala pujian, rasa kesyukuran kita panjatkan kepada Allah S.W.T yang telah memberikan kepada kita kesempatan emas ini untuk bersua dengan ramadhan, Syahrul ‘ibadah wal barakah, bulan ibadah dan penuh berkah, kesempatan ini merupakan sinyal uluhiyah –isyarah uluhiyah- bahwasanya Allah masih senantiasa menyanyangi kita semua, menginginkan kita semua kembali kepada-Nya dalam keadaan Fitrah bersih dari dosa dan angkara murka kehidupan sebagaimana Allah menciptakan kita semula.

Di kumunity kita yang “multi nikmat” ini puasa memberikan kita sebuah sisi lain kehidupan -other face of life –untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang kadang untuk makan sehari sangat susah, Puasa mengajarkan kita berbagi rasa dengan yang lain, menggelitik dan mencoba merangsang aura peduli kita kepada saudara kita yang miskin. Pernahkah kita mengingat orang-orang kelaparan ketika kita antri untuk mengambil makanan yang begitu lezat dihidangkan di Wisma Duta. Nah sensasi semacam ini yang berusaha kita munculkan dibulan ramadhan ini. 

Puasa berarti menanamkan pemahaman –makrifat-, prinsip hidup bahwasanya kita adalah sosok makhluk yang mempunyai dimensi Ruhiyah bukan semata madiyah – material-, Ruh tidak butuh makan dan minum sebagaimana jasmani kita, tapi butuh kepada hidangan-hindangan yang bersifat spirit, butuh olah ruh yang mampu menjadikan dia tetap stabil dan normal sehingga tetap pada relnya yaitu Fitrah, sehingga perbuatan-perbuatan kita tidak terinspirasi dari fikiran dan emosi, tetapi terkontrol dari Fitrah atau nurani – God spot -

Pada kesempatan ini, dengan izin dan pertolongan Allah dan mari kita berdoa semoga Allah memberkahi majlis ini, merupakan saat yang menurut hemat saya sangat baik dan tepat untuk sharing atau mungkin refresh our mind tentang puasa, tidak ada salahnya kita membuka dan mengedit kembali –rechek- pengetahuan kita tentang puasa, terus terang saya sangat salut kepada Bapak-Bapak kita yang ada di KBRI Addis ini, ketika saya diminta untuk membuat kawat atau brafaks, beliau-beliau sangat teliti baik dari segi penulisan maupun susunan kalimatnya, saya berfikir kalau saja sense semacam ini juga diterapkan dalam urusan-urusan ukhrawi, pada hal-hal yang bersifat Vertikal, insya Allah hidup ini akan imbang, hidup ini akan terasa lebih indah, bukankah keseimbangan itu adalah sesuatu yang sangat indah. Dan puasa berusaha melatih kita untuk hidup imbang.

Hal pertama yang sangat esensial dan urgent menurut hemat saya adalah mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa, pada dasarnya puasa ada dua macam yaitu tatawwu’ atau Sunnah dan Wajib, Puasa Wajib terdiri dari Puasa Ramadhan, Puasa Kaffarat, dan Puasa Nadzar, dan saya rasa ini sudah sangat maklum diantara kita, hal yang tidak kalah urgentnya kita sorot adalah apa saja yang dapat membatalkan puasa kita.

Kalau merujuk kepada klasifikasi puasa menurut Imam Al Ghazali (Puasa Umum, Puasa Khusus, Puasa Lebih Khusus ), maka dengan kerendahan hati kita mengakui bahwa level cara berpuasa kita adalah masuk dalam kategori Puasanya orang-orang Awam atau umum, tentunya akan sangat berkaitan dengan Syari’ah atau norma-norma yang telah digariskan oleh baginda Rasulullah. 


Ada dua kategori hukum mengenai hal-hal yang membatalkan puasa yang telah dirumuskan oleh ulama kita sebagai berikut : 


1. Puasa Batal dan wajib menggantikan puasa tersebut pada hari yang lain.
2. Puasa Batal dan wajib membayar Kaffarat. 

Point Pertama : Hal-hal yang membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa tersebut di lain hari.

- Makan dan minum : kedua hal ini dapat membatalkan puasa seseorang, adapun kalau seseorang itu lupa, maka tidak mengapa baginya untuk melanjutkna puasanya sesuai dengan landasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu huraerah r.a. dari Rasulullah S.A.W., beliau bersabda : 


من نسى وهو صائم فأكل او شرب, فليتم صومه, فإنما اطعمه الله وسقاه

Barangsiapa yang lupa sementara dia dalam keadaan berpuasa lalu dia makan atau minum, hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allahlah yang memberikan ia makan dan menghilangkan dahaganya.


Dalam hadits lain dikatakan : 

من افطر فى رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفاره

Orang yang berbuka di bulan Ramadhan dalam keadaan lupa, maka tidak wajib bagi dia mengganti dan tidak kaffarah baginya. 

- Muntah dengan Sengaja :
Adapun kalau seseorang itu muntah karena tidak sengaja, maka tidak ada qada baginya dan tidak mengapa dia melanjutkan puasanya. Abu huraerah meriyatkan dari Rasiulullah S.A.W. bersabda : 

من ذرعه القىء فليس عليه قضاء , ومن إستقاء عمداً فليقض


Barangsiapa yang munta karena terpaksa, maka tidak wajib baginya qada dan barangsiapa yang sengaja muntah maka wajib baginya qada. 

Al-Khattabi megomentari hal ini, bahwasanya saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat para ulama tentang tidak wajibnya qada bagi orang yang muntah tidak sengaja dan wajibnya qada bagi orang yang muntah dengan sengaja. 

- HAID DAN NIFAS :
Kalau seorang perempuan haid walaupun pada detik-detik menjelang berbuka puasa maka wajib baginya untuk menggati puasa tersebut. 

- KELUARNYA AIR MANI :
Sama adanya apakah air mani itu keluar karena mencium istrinya atau memeluknya ataukah karena melakukan onani, adapun kalau keluarnya air mani itu disebabkan karena semata-mata memandang istri pada siang hari ramadhan, maka tidak mengapa dia meneruskan puasanya, demikian halnya keluarnya air madzi tidak berpengaruh pada puasa seseorang, baik air madzi itu banyak atau sedikit. 

- BERNIAT IFTAR/BERBUKA :
Orang yang berpuasa kemudian berniat iftar maka batal puasanya walaupun tidak makan atau minum. Ulama memberikan alas an bahwa niat merupakan salah satu rukun dari puasa. 

- MEMASUKAN SESUATU ZAT KEDALAM RONGGA TUBUH : Pada umumnya ulama sepakat mengatakan Suntikan obat yang dimasukan kedalam tubuh tidak membatalkan puasa, selama suntikan itu berupa obat, tidak berupa makanan, dengan alasan bahwa suntikan obat itu tidak masuk kedalam rongga perut akan tetapi bereaksi pada darah. Lain halnya bila yang disuntikan itu adalah glukosa atau yang sering kita dengar Infus, para ulama sepakat bahwa infusan makanan yang dimasukan kedalam tubuh orang yang sedang sakit membatalkan puasa 

- Jika seseorang makan atau minum atau menjima/menggauli istrinya karena mengira belum masuk waktu imsak atau mengira sudah masuk waktu iftar, pada persoalan ini ulama berbeda pendapat : 

01. Wajib Qada, pendapat ini diperpegangi jumhur ulama 
02. Tidak ada Qada baginya dan Puasanya sah, pendapat ini di pelopori beberapa ulama diantaranya : Ishak, Daud, Ibnu Hazm, ‘Ata, ‘urwah, Hasan al Basri dan Mujahid dengan landasan Dalil Al-Qur’an : 


وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا 


Tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosa) apa yang disengaja oleh hatimu dan adalah Allah maha pengampun lagi maha Penyayang.
(Al-Ahzab Ayat 5) 


Point Kedua : Hal yang membatalkan Puasa dan Wajib Kaffarah 

- Al-Jima’: Melakukan hubungan suami istri pada siang hari ramadhan maka wajib bagi dia kaffarah yaitu : Memerdekakan budak atau berpuasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 fakir miskin.

Ketiga kaffarat tersebut diatas bukan merupakan pilihan akan tetapi sebuah alternative, dalam pengertian orang yang berkewajiban membayar kaffarat tidak seenae dewe memilih salah satu yang teringan dari tiga kaffarat tersebut. 
Terakhir saya ingin menyetir sebuah hadits yang Beliau Rasulunalkarim pernah katakan (aw kama qala) : Sesungguhnya setan-setan masuk ke dalam tubuh manusia mengikuti jalan darah, maka persempitlah jalannya dengan rasa lapar, dan beliau senantiasa menasehati Aisyah r.a. “sering-seringlah mengetuk pintu surga” Aisyah r.a. bertanya “dengan cara apa” Rasulullah menjawab dengan cara lapar, kemudian beliau melanjutkan sabdanya, kalau saja setan-setan tidak berkeliaran di hati manusia, tentulah mereka melihat kepada kerajaan langit, puasa itu membantu mematahkan syahwat. 

semoga Allah menjaga hati kita, melapangkan hati kita untuk mencernah apa yang kita dengar dan apa yang kita lihat insya Allah. 
رب اشرح لنا صدورنا ويسرلنا أمورنا


Addis Ababa, 01 Ramadhan 1432 H.
                    01 Agustus 2011 M.

A. Aidid

Monday, April 5, 2010

MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN
Refleksi ramadhaniyah

Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu mengamalkan doa yang Beliau sinyalir dalam sebuah hadits :

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَان. رواه أحمد والطبراني َ

“Ya Allah berikanlah kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur Kami di bulan Ramadhan” H.R. Ahmad dan Thabrani

Dan Alhamdulillah segala pujian, rasa kesyukuran kita panjatkan kepada Allah S.W.T yang telah memberikan kepada kita kesempatan emas ini untuk bersua dengan ramadhan, Syahrul ‘ibadah wal barakah, bulan ibadah dan penuh berkah, kesempatan ini merupakan sinyal uluhiyah –isyarah uluhiyah- bahwasanya Allah masih senantiasa menyanyangi kita semua, menginginkan kita semua kembali kepada-Nya dalam keadaan Fitrah bersih dari dosa dan angkara murka kehidupan sebagaimana Allah menciptakan kita semula.

Di kumunity kita yang “multi nikmat” ini puasa memberikan kita sebuah sisi lain -other face of life – kehidupan untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang kadang untuk makan sehari sangat susah, Puasa mengajarkan kita berbagi rasa dengan yang lain, menggelitik dan mencoba merangsang aura peduli kita kepada saudara kita yang miskin. Pernahkah kita mengingat orang-orang kelaparan ketika kita antri untuk mengambil makanan yang begitu lezat dihidangkan di Wisma Duta. Nah sensasi semacam ini yang berusaha kita munculkan dibulan ramadhan ini.

Puasa berarti menanamkan pemahaman –makrifat-, prinsip hidup bahwasanya kita adalah sosok makhluk yang mempunyai dimensi Ruhiyah bukan semata madiyah – material-, Ruh tidak butuh makan dan minum sebagaimana jasmani kita, tapi butuh kepada hidangan-hindangan yang bersifat spirit, butuh olah ruh yang mampu menjadikan dia tetap stabil dan normal sehingga tetap pada relnya yaitu Fitrah, sehingga perbuatan-perbuatan kita tidak terinspirasi dari fikiran dan emosi, tetapi terkontrol dari Fitrah atau nurani – God spot -

Pada kesempatan ini, dengan izin dan pertolongan Allah dan mari kita berdoa semoga Allah memberkahi majlis ini, merupakan saat yang menurut hemat saya sangat baik dan tepat untuk sharing atau mungkin refresh our mind tentang puasa, tidak ada salahnya kita membuka dan mengedit kembali –rechek- pengetahuan kita tentang puasa, terus terang saya sangat salut kepada Bapak-Bapak kita yang ada di KBRI Addis ini, ketika saya diminta untuk membuat kawat atau brafaks, beliau-beliau sangat teliti baik dari segi penulisan maupun susunan kalimatnya, saya berfikir kalau saja sense semacam ini juga diterapkan dalam urusan-urusan ukhrawi, pada hal-hal yang bersifat Vertikal, insya Allah hidup ini akan imbang, hidup ini akan terasa lebih indah, bukankah keseimbangan itu adalah sesuatu yang sangat indah. Dan puasa berusaha melatih kita untuk hidup imbang.

Hal pertama yang sangat esensial dan urgent menurut hemat saya adalah mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa, pada dasarnya puasa ada dua macam yaitu tatawwu’ atau Sunnah dan Wajib, Puasa Wajib terdiri dari Puasa Ramadhan, Puasa Kaffarat, dan Puasa Nadzar, dan saya rasa ini sudah sangat maklum diantara kita, hal yang tidak kalah urgentnya kita sorot adalah apa saja yang dapat membatalkan puasa kita.

Kalau merujuk kepada klasifikasi puasa menurut Imam Al Ghazali (Puasa Umum, Puasa Khusus, Puasa Lebih Khusus ), maka dengan kerendahan hati kita mengakui bahwa level cara berpuasa kita adalah masuk dalam kategori Puasanya orang-orang Awam atau umum, tentunya akan sangat berkaitan dengan Syari’ah atau norma-norma yang telah digariskan oleh baginda Rasulullah.

Ada dua kategori hukum mengenai hal-hal yang membatalkan puasa yang telah dirumuskan oleh ulama kita sebagai berikut :

1. Puasa Batal dan wajib menggantikan puasa tersebut pada hari yang lain
2. Puasa Batal dan wajib membayar Kaffarat.

Point Pertama : Hal-hal yang membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa tersebut di lain hari.

- Makan dan minum : kedua hal ini dapat membatalkan puasa seseorang, adapun kalau seseorang itu lupa, maka tidak mengapa baginya untuk melanjutkna puasanya sesuai dengan landasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu huraerah r.a. dari Rasulullah S.A.W., beliau bersabda :

من نسى وهو صائم فأكل او شرب, فليتم صومه, فإنما اطعمه الله وسقاه

Barangsiapa yang lupa sementara dia dalam keadaan berpuasa lalu dia makan atau minum, hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allahlah yang memberikan ia makan dan menghilangkan dahaganya.


Dalam hadits lain dikatakan :

من افطر فى رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفاره

Orang yang berbuka di bulan Ramadhan dalam keadaan lupa, maka tidak wajib bagi dia mengganti dan tidak kaffarah baginya.





- Muntah dengan Sengaja : adapun kalau seseorang itu muntah karena tidak sengaja, maka tidak ada qada baginya dan tidak mengapa dia melanjutkan puasanya. Abu huraerah meriyatkan dari Rasiulullah S.A.W. bersabda :
من ذرعه القىء فليس عليه قضاء , ومن إستقاء عمداً فليقض

Barangsiapa yang munta karena terpaksa, maka tidak wajib baginya qada dan barangsiapa yang sengaja muntah maka wajib baginya qada.

Al-Khattabi megomentari hal ini, bahwasanya saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat para ulama tentang tidak wajibnya qada bagi orang yang muntah tidak sengaja dan wajibnya qada bagi orang yang muntah dengan sengaja.

- HAID DAN NIFAS : kalau seorang perempuan haid walaupun pada detik-detik menjelang berbuka puasa maka wajib baginya untuk menggati puasa tersebut.

- KELUARNYA AIR MANI : sama adanya apakah air mani itu keluar karena mencium istrinya atau memeluknya ataukah karena melakukan onani, adapun kalau keluarnya air mani itu disebabkan karena semata-mata memandang istri pada siang hari ramadhan, maka tidak mengapa dia meneruskan puasanya, demikian halnya keluarnya air madzi tidak berpengaruh pada puasa seseorang, baik air madzi itu banyak atau sedikit.

- BERNIAT IFTAR/BERBUKA : Orang yang berpuasa kemudian berniat iftar maka batal puasanya walaupun tidak makan atau minum. Ulama memberikan alas an bahwa niat merupakan salah satu rukun dari puasa.

- MEMASUKAN SESUATU ZAT KEDALAM RONGGA TUBUH : Pada umumnya ulama sepakat mengatakan suntikan obat yang dimasukan kedalam tubuh tidak membatalkan puasa, selama suntikan itu berupa obat, tidak berupa makanan, dengan alasan bahwa suntikan obat itu tidak masuk kedalam rongga perut akan tetapi bereaksi pada darah. Lain halnya bila yang disuntikan itu adalah glukosa atau yang sering kita dengar Infus, para ulama sepakat bahwa infusan makanan yang dimasukan kedalam tubuh orang yang sedang sakit membatalkan puasa








- Jika seseorang makan atau minum atau menjima/menggauli istrinya karena mengira belum masuk waktu imsak atau mengira sudah masuk waktu iftar, pada persoalan ini ulama berbeda pendapat :

01. Wajib Qada, pendapat ini diperpegangi jumhur ulama
02. Tidak ada Qada baginya dan Puasanya sah, pendapat ini di pelopori beberapa ulama diantaranya : Ishak, Daud, Ibnu Hazm, ‘Ata, ‘urwah, Hasan al Basri dan Mujahid dengan landasan Dalil Al-Qur’an :

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosa) apa yang disengaja oleh hatimu dan adalah Allah maha pengampun lagi maha Penyayang. (Al-Ahzab Ayat 5)

Point Kedua : Hal yang membatalkan Puasa dan Wajib Kaffarah
- Al-Jima’: Melakukan hubungan suami istri pada siang hari ramadhan maka wajib bagi dia kaffarah yaitu : Memerdekakan budak atau berpuasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 fakir miskin.

Ketiga kaffarat tersebut diatas bukan merupakan pilihan akan tetapi sebuah alternative, dalam pengertian orang yang berkewajiban membayar kaffarat tidak seenae dewe memilih salah satu yang teringan dari tiga kaffarat tersebut.

Terakhir saya ingin menyetir sebuah hadits yang Beliau Rasulunalkarim pernah katakan (aw kama qala) : Sesungguhnya setan-setan masuk ke dalam tubuh manusia mengikuti jalan darah, maka persempitlah jalannya dengan rasa lapar, dan beliau senantiasa menasehati Aisyah r.a. “sering-seringlah mengetuk pintu surga” Aisyah r.a. bertanya “dengan cara apa” Rasulullah menjawab dengan cara lapar, kemudian beliau melanjutkan sabdanya, kalau saja setan-setan tidak berkeliaran di hati manusia, tentulah mereka melihat kepada kerajaan langit, puasa itu membantu mematahkan syahwat.

semoga Allah menjaga hati kita, melapangkan hati kita untuk mencernah apa yang kita dengar dan apa yang kita lihat insya Allah.
رب اشرح لنا صدورنا ويسرلنا أمورنا

Addis Ababa, 20 Agustus 2009
A. Aidid





Dipresentasikan di Mushallah KBRI Addis Ababa

Taro ki ada-ada

HTML Comment Box is loading comments...

Followers